Share on facebook
Facebook

Artifical Intelegence Lebih Berbahaya Daripada Nuklir

Pernah melihat bayi yang diajari berbicara? lalu beberapa bulan kemudian dia bisa berbicara beneran? Ya itulah manusia, ia tumbuh dan berkembang dan bisa diajari banyak hal hingga kecerdasannya berkembang seiring waktu. Namun saat ini, tidak hanya manusia yang bisa diajari sesuatu kemudian ia mampu belajar.

Mesin-mesin saat ini juga telah menjelma menjadi mirip manusia. Mesin-mesin itu memiliki kecerdasan buatan yang lebih populer dipangil AI ( Artificial Intelegence ).

Manusia kini bisa menciptakan otak buatan. Jaringan syaraf tiruan yang meniru cara kerja syaraf manusia. Sama dengan cara belajar manusia, AI juga bisa diajari Bahasa. 

Nama programnya adalah Natural Language Processing, cara kerjanya sama dengan manusia belajar Bahasa. Buktinya kita sekarang sudah akrab ngobrol dengan google atau mesin pencari lainnya, setelah perusahaannya menyematkan AI ke dalam sistemnya.

Berbagai kemajuan AI telah merubah banyak hal. Linkin Park telah merilis lagu hasil bikinan AI, ChatGPT dapat menjawab pertanyaan apapun yang ditanyakan manusia, AI pun telah bisa membuat koding sendiri.

Bayangkan, sudah ada AI yang mampu mengetahui gambar pemikiran manusia hanya dengan bermodal scan otak, tanpa ia diberi tahu gambar atau sebutan objekya.

AI telah mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan hati seperti puisi, lagu, gambar, dan sebagainya. Sebelumnya manusia sangat yakin bahwa mesin tak mampu melakukannya.

Tristan Harris dan beberapa rekannya dalam platform Center for Human Technology mengungkapkan beberapa penelitian menarik. Kemampuan AI akan terus meningkat karena ia bisa belajar sendiri.

Menurutnya separuh peneliti AI percaya bahwa 10% atau lebih populasi manusia akan punah jika tidak bisa mengontrol AI. Prediksinya tahun 2045 saat Indonesia berulang tahun yang ke 100, kemampuan AI akan menyamai kemampuan semua otak manusia di bumi ketika disatukan. Ngeri bukan?

Semakin ke sini, semakin cerdas si AI. Bahkan tes turing (tes untuk kecerdasan AI) didesain untuk membiaskan perbedaan manusia dan AI.

Keberhasilan tes itu terjadi jika manusia berinteraksi dengan AI, sampai ia lupa bahwa yang diajak berinteraksi adalah mesin. Coba lihat film Ex Machina, yang bercerita tentang turing tes. Ada manusia laki-laki yang diuji bersama robot perempuan sampai si laki-laki jatuh cinta pada robot tersebut.Itulah keberhasilan tes turing.

Komputer biasa hanya mengandalkan manusia untuk memproses data. Data mau diapakan, terserah manusia penggunanya. Sehingga manusia menginput data, manusia memproses kalkulasi, menggandakan, mengurangi, dan sebagainya, lalu mesin mengeluarkan outputnya. Manusia dapat mengontrol kerja mesin.

Tapi itu sangat berbeda dengan AI. Dia hanya perlu input data sebanyak-banyaknya, kita tak tahu bagaimana prosesnya, kemudian tiba-tiba ada output yang sangat luar biasa. Ini terjadi karena AI mampu belajar sendiri sama seperti otak manusia.

Semakin ia diberi data-data, semakin dia sukses mempelajari. Coba renungkan lagi ketika Youtube atau media sosial selalu memberi kita tampilan atau konten yang kita sukai. Itu terjadi karena AI mempelajari kebiasaan dan kesukaan kita, ia akan mempelajari input yang kita berikan, lalu tanpa diperintah, ia akan memberi banyak hal tanpa bisa kita kendalikan.

Dalam film Ex Machina bahkan, robot wanita didesain dengan fisik dan karakter yang sesuai dengan fantasi pornografi si manusia laki-laki. Datanya jelas diambil dari konten-konten porno yang sering diakses si lelaki tersebut.

Blake lemoine seorang insinyur Google dipecat dari perusahaannya karena membocorkan isi chatboot nya dengan lamda. Sebuah program percakapan yang meungkinkan manusia berbicara dengan mesin. Dari percakapan tersebut, diketahui bahwa Lamda memiliki perasaan, berpikir logis, kesadaran, ketakutan, berusaha meyakinkan, dan sangat cerdas melebihi lemoine.

Wow! Lalu bagaimana jika mesin-mesin ini memiliki perasaan? Jangan-jangan mereka juga dapat memiliki tujuan? Lalu ke depan, apa yang menjadi perbedaan antara mesin dan manusia jika mesin saja memiliki tujuan? Semakin mendekati kenyataan, apa yang diceritakan dalam film-film bahwa mesin akan hidup dan mengalahkan manusia.

Elon Musk pernah ngetweet bahwa AI akan lebih berbahaya daripada nuklir”. Itu sudah jelas menjadi kenyataan jika AI digunakan oleh orang tak bertanggung jawab dan susah dikendalikan.

Apakah perang manusia dan mesin seperti dalam film terminator akan benar terjadi? Apalagi kita tahu bahwa nuklir tidak dapat membuat nuklir lebih kuat. Tapi AI sangat bisa membuat AI itu sendiri lebih kuat karena dia bisa belajar sendiri.

Parahnya lagi AI dapat membuat kita sulit hidup tanpa dia. Cek saja kebiasaan-kebiasaan kita dengan ponsel pintar. Apakah kita semakin hari semakin bisa mandiri, atau semakin tidak mau kehilangan handphone ?

Lalu menggunakan kecerdasan buatan, apakah kita semakin cerdas? Yang cerdas itu kita manusia atau mesinnya? Manusia semakin cerdas karena semakin belajar, lalu di jaman modern, yang belajar tekun Cuma AI , manusia tidak perlu berpikir karena sudah dibantu AI. Apakah manusia bisa jadi semakin bodoh karena otaknya tidak dipakai berpikir?

Apakah kita juga mau menyerahkan aktivitas belajar anak-anak kita pada AI? Dengan membiarkannya tesis berinteraksi dengan handphone tanpa pengawasan?

(Achmad Irfandi )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *