Share on facebook
Facebook

Sekte Dolanan VS Sekte AI

Dolanan Petak Umpet melatih kesadaran ruang. Apa yang disebut sebagai persepsi spasial visual dalam perkembangan motorik perseptual. Ini sebagai latihan akhir sebelum masuk area kognisi. Sementara respon pendengaran dilatih saat si bocil bersembunyi dan mendengarkan hitungan. Semakin jauh bersembunyi, semakin diuji jangkauan sensor dengarnya.

Congklak atau Dakon sebagai mainan klasik bocil-bocil Jawa, melatih motorik planning saat si bocil mengecer biji-biji dakon mengelilingi lubang. Kematangan refleks juga bekerja saat biji yang jatuh tak sesuai harapan. Si bocil akan berusaha menata ulang biji sesuai aturan. Jangan lupa skema tubuh saat duduk juga tak sadar telah terlatih. Sikap duduk sempurna sesuai kenyamaan tubuh membuat bocil percaya diri memenangkan permainan ini.

Egrang sebagai mainan yang membutuhkan banyak tenaga ini ternyata melatih sensor vestibular (keseimbangan). Sensor motorik yang dimainkan tentu meliputi skema tubuh, dan keamanan postural. Two Sides Body Awareness atau kesadaran dua sisi tubuh juga terus dimainkan saat bocil berlatih bergantian melangkahkan batang egrang kanan dan kiri. Secara sistem taktil (indra peraba) si bocil ini juga lumayan bekerja keras saat mempertahankan telapak kaki di atas pijakan.

Apa kamu pikir gobak sodor / hadang hanya melatih fisik saja? Coba perhatikan ruang kotak-kotak yang berukuran 15×9 meter ini menjadi halaman yang harus dijaga agar tidak dilewati musuh. Kecerdasan spasial para bocil tentu terasah sempurna lewat upaya mempertahankan ruang persegi panjang ini. Sama seperti egrang, kesadaran dua sisi tubuh juga terasah. Malah lebih kompleks lagi karena selain kanan dan kiri tubuh, mereka harus perhatikan depan dan belakang agar tidak diterobos musuh. Kematangan refleks dalam menggapai badan musuh serta menghindari tangan musuh juga semakin diasah ketajamannya.

Itu sedikit contoh permainan – permainan tradisional yang secara kultural diturunkan atau diwariskan secara lisan. Ternyata sebelum nenek moyang kita mengenal ilmu psikologi perkembangan mereka mampu ciptakan mainan-mainan yang melatih tubuh dan jiwa bocil-bocil. Tentu masih sangat relevan hal tersebut di masa kini. Apakah dulu nenek moyang kita sempat konsultasi dengen Jean Piaget? Seorang Filsuf psikologi perkembangan.Tentu sangat tidak mungkin ya.

Lalu bagaimana jika bocil-bocil itu hanya menatap layar elektronik saja sepanjang hari? Apakah dapat melatih semua aspek fisik dan kejiwaan tersebut? Nyatanya HP lebih dianggap menarik karena tak perlu susah payah mendapatkan keasyikan. Bocil-bocil lebih memilih HP karena tidak ada orang atau entitas di sekitar mereka yang lebih asyik daripada HP. Sehingga HP lah pilihan utamanya untuk bermain.

“Lho kan tetep perlu HP, kita akan ketinggalan jaman jika tidak pakai HP, Anak-anak juga perlu belajar HP agar tidak ketinggalan jaman” pernyataan tersebut memang sering didengungkan oleh masyarakat awam. Alasan tepat untuk mengimbangi pernyataan tersebut bukan hanya urusan pelestarian budaya lewat permainan tradisional atau sekadar nostalgia (klangenan) para orang tua.

Lebih dari itu permainan tradisional menyediakan semua nutrisi perkembangan jiwa dan fisik untuk bocil bertumbuh kembang. HP tidak menyediakan semua itu, meskipun dia semakin pintar dengan pasukan Artificial Intelegent. Semakin pintar perangkat manusia, bisa jadi semakin kerdil perkembangan jiwa dan fisik manusia karena tidak terlatih menghadapi kesulitan tetapi semakin dimudahkan.

Sel syaraf semakin banyak terhubung ketika bocil bermain permainan tradisional, massa otot juga makin berkembang. Permainan tradisional menyediakan sentuhan langsung yang sangat berkualitas, baik dengan sesama manusia maupun dengan alam. Sebagian besar permainan tradisional menggunakan bahan alam untuk material utama dan hampir tidak ada permainan tradisional yang asyik dimainkan sendiri. Permainan tradisional indah dimainkan bersama.

Bocil-bocil semakin cerdas jika belajar sains dari batu, daun, bunga, biji-biji anak, air, angin. Lalu belajar IPS nya lewat interaksi bersama teman. Bukannya mengesampingkan Artificial Intelegent sebagai idaman umat manusia saat ini, bocil-bocil pasti akan butuh AI di masa dewasanya. Namun mari kita ijinkan bocil-bocil ini mendapatkan haknya, tumbuh dan berkembang dengan sempurna, motorik dan kognitif terasah tajam lewat “Real Life” di masa pertumbuhannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *