Share on facebook
Facebook

Daendels: Bapak Pendidikan Indonesia (Bukan Ki Hajar)

Opini menjelang 2 Mei, Oleh : Irfandi

Aku membayangkan lucunya suatu saat ada ahli-ahli pendidikan Indonesia diutus Menteri untuk belajar sistem pendidikan Finlandia. Setelah menginap di hotel, paginya mereka menemui para pejabat pemangku pendidikan di Finlan. Setelah ngobrol cukup lama tentang cikal bakal pendidikan Finlan, rombongan Indonesia diajak ke sebuah perpustakaan utama negeri tersebut.

Di sana para ahli pendidikan Finlan menunjukkan sebuah buku, manuskrip, atau apa saja yang menjadi dasar rujukan pendidikan di negeri tersebut. Lalu mereka berkata “Ini rujukan kami, pemikiran-pemikiran seseorang yang cerdas bernama R.M. Soewardi Soerjaningrat dari negaramu, kami menggunakan dasar-dasar pemikirannya untuk membangun pendidikan di negara kami”

Begitu terperanjatnya para tamu dari Indonesia mendengar bahwa pemilik nama tersebut adalah Ki Hajar Dewantara, seseorang yang diyakini orang-orang kita sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, Menteri Pendidikan Indonesia yang pertama. Di negara asalnya pemikiran-pemikiran Ki Hajar tidak dikembangkan, buku babon nya tidak dibaca, sedangkan jauh di negara Skandinavia, pemikirannya sudah diterapkan.

Mereka tertunduk, tapi terasa tertampar dari segala arah. Rasanya wajah mereka bukan hanya merah karena tamparan imajiner, namun juga karena rasa malu dan sesal yang menusuk dalam. Namun sekali lagi kejadian tersebut hanya bayanganku, jikalau memang pernah terjadi, mungkin hanya sebuah kebetulan.

Beberapa artikel menunjukkan bahwa Finlandia telah mengolah sistem pendidikannya dengan sangat indah. Terlepas ada pengaruh pemikiran Ki Hajar atau tidak, sistem mereka sama persis dengan pemikiran Ki Hajar. Sekolah sebagai Taman Pendidikan, Pendidikan yang menyenangkan, Tut Wuri Handayani (mungkin dengan istilah lain) .

Sedangkan kita ini ngakunya menobatkan Ki Hajar sebagai Bapak Pendidikan, namun tidak banyak memakai sistem pemikirannya untuk desain utama pendidikan Republik ini. Nyatanya kita lebih berorientasi pada pemikiran Daendels dan pejabat-pejabat Hindia Belanda yang datang ke Nusantara pasca era VOC. Kala itu Daendels datang memang untuk melakukan transformasi di tanah ini, masyarakat buta huruf dididik, sekolah ronggeng didirikan, sekolah bidan, dan lain sebagainya untuk rakyat pribumi.

Tujuannya apa? Ya supaya rakyat kita tidak terlalu bodoh jika mau tanahnya dibangun. Dibangun untuk siapa? Ya tentu untuk Belanda. Bahasa gampangnya, supaya orang pribumi mudah disuruh, diperintah, dan tidak terlalu jauh frekuensi pemikirannya dari Juragan eropa. HIS, MULO, adalah contoh lembaga -lembaga pendidikan pemerintah kolonial.

Tapi memang kita harus berterima kasih pada Daendels sebagai Bapak yang meletakkan dasar-dasar pendidikan kita (yang saat ini kita pakai) . Untuk menyebarkan ilmu pengetahuan diperlukan penyeragaman agar yang dididik mudah diatur. Prinsip regering, tucht, orde (perintah, hukuman, dan ketertiban) adalah prinsip yang dipakai di jaman itu. Bukankah itu yang sekarang kita sistematiskan di ruang-ruang kelas kita?

Selanjutnya meletuslah pemikiran-pemikiran Ki Hajar yang memandang cara-cara pendidikan seperti ini harus dilawan. Pendidikan tidak untuk mencabut rakyat dari akar budayanya. Pendidikan tidak untuk menindas anak-anak. Pendidikan tidak untuk menciptakan budak. Pendidikan adalah untuk memerdekakan manusia, pendidikan untuk membangun kesadaran nasional.

Pendidikan untuk menjadikan manusia merdeka, berkembang dan membentuk diri sesuai pemikiran. Pendidikan untuk menjadikan orang berkontribusi dengan kekhasan masing-masing. Sejatinya pendidikan untuk mewujudkan peradaban, baik itu budaya, lingkungan, kebangsaan, ekonomi, dan sebagainya. Pendidikan tidak mengikat mindset manusia pada muara ekonomi semata.

Pendidikan untuk memecahkan masalah bangsa. Kampus-kampus didirikan untuk menyelesaikan berbagai masalah peradaban dengan sains. Kampus-kampus tidak semata-mata menciptakan gelar untuk peningkatan taraf upah. Kalau pendidikan hanya untuk ekonomi dan industri, kenapa harus menciptakan beribu-ribu kampus? Kita cukup mendirikan Balai Latihan Kerja di tiap kecamatan, jika motifnya adalah membuat anak-anak layak bekerja.

Apa gunanya pendidikan jika, remaja-remaja yang mulai kuliah, akhirnya merasa asing dengan akar kehidupan nya di kampung? “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali” seperti itulah Tan Malaka berkata. Sebenarnya sudah terjadi saat ini bukan? Anak-anak muda bercita-cita sederhana, kuliah tinggi sampai merasa pintar bergelar. Mimpi untuk sebatas bekerja dengan jaminan pensiun dan tunjangan. Hidup secara urban yang cenderung individualis.

Kembali lagi ke masalah pendidikan. Jika Pendidikan adalah Grand Design pembangunan bangsa, maka seharusnya birokrasi dan politik tidak menciptakan pergantian kurikulum 5 tahun sekali. Dari sekian kali pergantian kurikulum, semua menteri merasa benar dan efektif kebijakannya. Saat ini seorang Menteri muda sedang melakukan perubahan besar terhadap sistem pendidikan. Mengembalikan falsafah Ki Hajar ke dalam ruh pendidikan dengan label “Merdeka Belajar” .

Entah benar-benar merdeka atau tidak, harusnya di sini “Grand Design” dimulai. Mau skor peringkat PISA berapapun, yang penting satu harapan yaitu Kurikulumnya jangan diganti . Kita tidak pernah selesai dengan gonta-ganti kurikulum, dan berimbas pada besarnya pengorbanan biaya, waktu, pemikiran, seputar administrasi.

Merdeka itu ya Merdeka! Termasuk merdeka dalam transformasi pendidikan. Tidak dijajah oleh kepentingan mereka yang meminta dipilih setiap lima tahunan.

Sumber:

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/10/31/hari-pendidikan-dan-warisan-sang-pahlawan-pendidikan

https://www.kompasiana.com/agie24472/5fb490548ede4802e4093fd2/daendels-adalah-bapak-pendidikan-indonesia-yang-sebenarnya

https://duta.co/pendidikan-di-finlandia-maju-berkat-ki-hadjar-dewantara

https://intisari.grid.id/amp/0392335/ajaran-ki-hadjar-dewantara-diadopsi-finlandia

https://www.liputan6.com/news/read/2141165/pendidikan-di-finlandia-maju-berkat-ki-hadjar-dewantara

https://tirto.id/bagaimana-daendels-membangun-pemerintahan-modern-di-hindia-belanda-cyja

3 Comments:
Mei 1, 2023

Hhmmm… Pusing juga kk…

admin
Mei 6, 2023

Pusing kenapa nih?

Oktober 15, 2023

Kurikukum Merdeka belajar, apakah nyatanyaa benar2 merdeka untuk guru dan siswa? Terlebih lagi untuk guru
Mumet banget pak irfandi 🥲😄

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *