Share on facebook
Facebook

Kakaknya Indonesia

Orang tua sudah pasti pernah muda, sedangkan orang muda belum tentu jadi tua. Ungkapan tersebut layak didengungkan pada setiap kawula muda yang merasa enerjik dan punya klaim menjadi pemilik masa depan. Orang-orang tua meskipun dianggap lamban dan kuno, tentu lebih punya banyak pengalaman hidup. 

Orang muda, meskipun penuh energi, cerdas berteknologi, jangankan menjadi bijak di masa tua, kepastian ia menjadi tua saja belum ada jaminan. Banyak anak muda yang malah mendahului menghadap yang kuasa.

Dulu orang tua saat kita masih bayi sering mengintip ke dalam kamar kita untuk memastikan nafas kehidupan kita. Namun saat kita yang jadi dewasa, orang tua kita terbaring dalam kamar, kita sesekali mengintip ke dalam kamar utk memastikan orang tua masih bernafas atau tidak.

Kenapa org tua senang sekali bercerita? Karena ia tidak sering mendapatkan wadah untuk menumpahkan semua pengalaman hidupnya. 

Terkadang memang banyak dari orang tua, mbah, buyut kita merasa tahu banyak hal, karena memang pengalaman hidupnya menunjukkan jam terbang yang membubung tinggi.

Kalau anak muda sekarang males mendengar cerita dan nasehat orang tua, dengan alasan “males ah, nggk se frekuensi! ” dan lebih memilih scrool tiktoknya, maka jelaslah ia bagian dari kemajuan yang buta. Kemajuan yang tak punya arah, kemajuan yang tak punya akar. Tidak mungkin kita bicara kpop atau konten viral terkini kepada kakek nenek kita kan?

Setidaknya para kakek nenek kita tahu etika berbicara. Tahu nilai-nilai berhubungan sosial di dunia nyata. Mereka pernah hidup di zaman saat ngobrol berkualitas itu tanpa memegang HP. 

Mereka pernah hidup di zaman tidak ada gangguan notifikasi saat bersosial. Lalu mereka kini hidup di zaman ini, zaman saat cucu-cucunya merasa tidak sefrekuensi. Zaman saat cucunya hanya butuh videocall daripada sentuhan salim hangat yang berkualitas.

Jika kamu mempunyai kakek, nenek, buyut berusia lebih tua daripada Indonesia, 77 tahun ke atas, tolong jangan sia-siakan. Jika beliau masih bisa bercerita, ia adalah guru sejarah terdekatmu. 

Meskipun bukan veteran perang, setidaknya mereka mengalami bagaimana saat itu rakyat hidup kritis dirampas kemerdekaannya. Jika kamu ingin tahu sejarah sebuah peristiwa, kamu harus punya narasumber yang minimal lebih tua 10 tahun daripada usia peristiwa itu. 

Jika saat sebuah peristiwa itu terjadi, kakek buyutmu berusia minimal 10 tahun, kemungkinan besar ia pasti merekam peristiwa tersebut di sekitar tempat tinggalnya. Mungkin mereka pernah melihat tank, mungkin mereka pernah bersembunyi saat tentara Gurkha berpatroli, mungkin mereka pernah dipacari tentara Jepang, mungkin makanan mereka pernah dirampas, mungkin juga mereka bagian dari pengungsi saat terjadi pergolakan. 

Mereka mungkin sebagai anak dari orang tua yang sawahnya dikuasai Suikerfabriek (pabrik gula hindia Belanda) lalu dikenai sewa seenaknya sendiri.

Mungkin ini tidak penting bagi anak-anak pecandu ep-ep atau remaja pecandu scrol medsos . Tapi ini penting bagi semua generasi yang tidak ingin tercerabut akar identitasnya. Baik sebagai bangsa, maupun sebagai keluarga-keluarga kecil bagian dari bangsa. 

Mengenal Indonesia itu tidak harus dari menghafal buku sejarah atau perolehan nilai mapel sejarah yang mumpuni. Mengenal Indonesia tidak harus dari halaman depannya. Mengenal Indonesia bisa dilakukan di halaman belakangnya, di desa-desa, di rumah-rumah kakek, nenek, buyut, dsb. Mengenal Indonesia tidak harus menghafal peristiwa besar kemerdekaan atau berdirinya Kerajaan Sriwijaya, namun memahami peristiwa kecil dalam lingkungan terdekat kita juga bagian dari merawat sejarah Bangsa. 

Mohon maaf lahir batin.  

(Achmad Irfandi)

6 Comments:
April 24, 2023

Tulisan ringan namun berbobot pesannya

admin
April 27, 2023

Terima kasih banyak sudah mampir kesini pak Abdullah

April 24, 2023

Masya Allah tulisan ini mengajarkan kita tanpa Mbah, nenek buyut orang tua kita maka kita tidak akan tahu arti sejarah sesungguhnya..
Mengajarkan adab dan karakter yang sudah hampir pupus oleh Hp ..
Inspirasi dan sangat menarik..

admin
April 27, 2023

Semoga bisa menginspirasi semua ya bu Sugiyarti. Terima kasih atas waktu yang sudah diluangkan untuk mengunjungi Blog kami.

April 26, 2023

Tulisan yang kaya makna. Terima kasih Pak Irfandi atas tulisannya yg mencerahkan. Semoga banyak generasi muda & membaca & tercerahkan.

admin
April 27, 2023

Amin-amin. Terima kasih banyak sudah mau mampir kesini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *