Share on facebook
Facebook

Belajar Per-bocil-an

Apakah kecerdasan bocil didasarkan pada kecepatan pemerolehan kemampuan membaca dan menulis? Sayangnya kebanyakan dari kita menganggapnya seperti itu. Pokoknya cepet-cepetan bisa sebutkan huruf dan angka, apalagi sebutkan warna dengan bahasa Inggris, itu sudah pencapaian yang keren.

Padahal menurut  Williams & Shellenberger  dalam piramida pembelajarannya menunjukkan bahwa kemampuan akademik seperti baca tulis menempati kemampuan di puncak piramida. Itupun didahului dengan mengenal simbol bahasa tulis, tidak langsung membaca atau menulis.Lalu apa yang menjadi pondasi piramida? Sebagai dasar untuk menyusun bangunan pembelajaran dan mencapai ujung lancip piramida (kognitif akademik).

Ternyata sensor yang diciptakan Tuhan terhadap semua bocil di dunia ini menjadi hal mendasar untuk bocil belajar. Hal yang bikin bocil punya kecerdasan ya pondasinya dari sensor indra ini. Bocil sudah dengar suara ibunya sejak dalam kandungan, lalu mengingat saat ia keluar. Bagaimana bocil bisa mencapai puting susu ibunya kalau sensori rabanya tidak bekerja? Bocil-bocil ini tahu mana ibunya dan mana yang bukan ya dari aroma keringat/tubuh ibunya (penciuman). Biasanya dia coba-coba gigitin mainan disekitar karena pengen tahu rasanya (pengecapan). Dolanan Ciluk ba juga sebagai stimulasi penglihatan si bocil.

Pernah melihat bocil julurkan lidah ketika disentuh bibirnya? Ngemut jari ketika sedang lapar? Dikasih mainan ecek-ecek ternyata digerakin terus karena bisa bunyi. Kadang si bocil membentur-benturkan dua benda karena excited sama bunyinya. Ia juga suka pencet-pencet benda lain karena penasaran akan bunyi seperti apa. Tahap lanjut biasanya si bocil bakal nyariin mainannya yang disembunyikan ortunya di tempat terakhir dia menemukannya. Semua aktivitas itu ternyata adalah aktivitas sensori motorik sebagai kelanjutan optimasi sensor indra. Mulai main dia tuh mengombinasi antara indra dan gerak otot.

Menyamankan posisi duduk, menyamankan postur berdiri, tidak mudah jatuh, termasuk olahraga fisik yang membekali bocil di kehidupan lanjutan. Ya kalau bocil tak bisa duduk dengan nyaman dengan postur seimbang, mana bisa dilanjutkan ke aktifitas menulis, seni, dan berkreasi?
Tahu mana tangan kanan mana tangan kiri, lewat permainan tangan atau dua sisi tubuh juga sebagai awalan bocil membedakan mana huruf p, q, b, d bukan? Jadi kenapa tidak dibangun kesadaran motorik dulu, daripada memaksa hafalan simbol huruf ya?

Masih ingat nyanyian, “kepala pundak lutut kaki, lutut kaki” ? Bagian dari mengenal dunia yakni mengenal tubuh sendiri. Kalau di PAUD biasanya ada mainan ayunan, panjat-panjatan, prosotan, brakiasi, lantai berpola, dan sebagainya. Mainan itu juga bagian dari mengenalkan banyak hal. Ya selain mengenal tubuh, bocil juga perlu dikenalkan mana tinggi, rendah, atas, bawah, depan, belakang, luas, sempit, jalan lurus, jalan melengkung, jalan zig-zag, dan sebagainya.

Kalau sambil dolanan tembang atau bermain dengan nyanyian biasanya bocil selalu bisa tepuk di notasi yang tepat. Kok bisa ya? Pembiasaan dengan kesadaran tempo melalui bernyanyi, bisa mempengaruhi kemampuan bocil mengordinasikan antara otot, otak, pendengaran, penglihatan, dan respon.

Bahasan tersebut merupakan inti dari kegiatan motorik perseptual pada bocil. Motorik perseptual menghubungkan pengetahuan tentang diri, lingkungan, waktu, ruang, dan pelibatan indrawi. Pada bahasan lain kita mengenal dengan kemampuan kordinasi bilateral. Kemampuan bocil dalam mengkordinasikan banyak organ dan indra secara sistematis. Kemampuan ini juga berpengaruh pada identifikasi bentuk seperti besar kecil, panjang pendek, banyak sedikit, dan sebagainya. Sehingga pasti nanti berguna untuk menyokong daya tulis huruf atau angka.

Dolanan lompat, tangkap, tendang, dorong, tarik, gulung-gulung, panjat, gantung, rayap, rangkak, geser, goyang, kayaknya lebih menyenangkan daripada harus kenal kertas dan pensil duluan. Toh secara urutan perkembangan belajar bocil, jenis stimulasi sudah tertata rapi. Seolah menyiapkan si bocil mengenal dunia. Jadi namanya membangun kecerdasan ya seperti membangun rumah. Kan tidak mungkin membangun rumah ditumpuk paksa dengan genteng dulu. Kan selalu batu pondasi dulu, baru tembok, kerangka atap, baru genteng.

Kini tiba di ranah kognitif, tapi di ranah ini pun tidak melulu langsung baca tulis ya. Tahap-tahap perilaku, kebiasaan baik, kemandirian, ini menjadi sesuatu yang penting juga di aspek kognitif. Kalau bocil sudah kuat sensor indranya, kuat sensori geraknya, kuat persepsi motoriknya barulah mengarah ke perilaku, misalnya berbuat baik, berbagi, tidak mengganggu teman, belajar fokus dan yang paling perlu mendapat perhatian adalah “meniru” . Makanya bocil-bocil selalu lebih pandai meniru perilaku orang dewasa tanpa disadari orang dewasa itu sendiri.

Keterampilan berbahasa dikenalkan lewat mendengar, membaca, menulis, dan berbicara. Numerasi lewat berhitung, simbol matematis, dan sebagainya. Namun kadang kita terlalu memaksa bocil mencerna semua dengan kapasitas belajar orang dewasa. Padahal bocil perlu naik tangga-tangga pemahaman daripada terpaksa melompat di balkon hafalan.

Baca Tulis dimulai dari mengenalkan simbol huruf. Tentu lebih asyik dalam memahami saat kenalkan simbol lewat bermain, tempel-tempel, gunting-gunting, mewarnai, dan meneriakkan bunyi abjadnya daripada menghafalkan urutan abjad secara langsung. Namun sebelumnya perlu kiranya mendasari pemahaman bentuk simbol dengan belajar titik, garis, dan sebagainya.

Termasuk belajar angka, biasanya kita sering ajarkan pada bocil simbol angka, bukan makna jumlah dalam angka tersebut. Makanya sering kita lihat bocil tahu cara menulis angka 5, tapi tidak mampu mengumpulkan lima biji permen. Banyak bocil mampu hafalkan perkalian dan pembagian lewat daftar tabel, daripada membagi permen secara adil pada temannya.

Jadi, mau pilih mana? Bocil terlihat pintar, atau bocil pintar beneran? (Achmad Irfandi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *